BATAM – Pembangunan jalan membutuhkan tenaga, waktu, dan kerja keras. Ada material yang harus diangkut, beton yang harus diratakan, serta berbagai tantangan di lapangan yang harus diselesaikan. Namun, di balik kesibukan Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0316/Batam, terselip sebuah cerita sederhana yang justru memberikan makna lebih dalam tentang pengabdian.
Cerita itu datang dari seorang warga lanjut usia, Mbah Rustam Hadi, yang akrab disapa Mbah Hadi. Di usianya yang telah menginjak 74 tahun, ia masih memperlihatkan semangat, keramahan, dan kepedulian kepada para prajurit TNI yang sedang bekerja membangun lingkungan tempat tinggalnya.
Senin (2/11/2026), di tengah aktivitas pembangunan di Kavling Mangsang Maju, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sungai Beduk, Kota Batam, kehadiran Mbah Hadi kembali menghadirkan suasana kekeluargaan.
Dengan logat Jawa yang khas, ia kerap memanggil anggota Satgas TMMD. Bukan untuk meminta bantuan pekerjaan, melainkan sekadar mengajak berbincang, menyapa, atau mengundang mereka menikmati makanan bersama.
Panggilan sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun, bagi prajurit yang setiap hari berjibaku dengan pekerjaan fisik, perhatian seperti itu menjadi sesuatu yang berharga.
Di tengah panas matahari, suara mesin molen, dan kesibukan pengecoran jalan, ada seorang warga yang dengan tulus ingin memastikan mereka tetap merasa dekat dengan masyarakat.
Ketulusan yang Tidak Diukur dari Usia dan Tenaga
Mbah Hadi mungkin tidak ikut mengangkat material, mengoperasikan alat berat, atau meratakan beton di badan jalan. Faktor usia tentu membuatnya tidak lagi leluasa melakukan pekerjaan fisik berat.
Namun, bukan berarti ia tidak memiliki peran dalam perjalanan TMMD tersebut.
Melalui sapaan, senyuman, dan perhatian kecil yang diberikan kepada anggota Satgas, Mbah Hadi menghadirkan dukungan dalam bentuk yang berbeda.
Ia seolah menunjukkan bahwa membantu sesama tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan tubuh. Ada perhatian yang bisa diberikan melalui kata-kata, ada semangat yang dapat disampaikan lewat kehadiran, dan ada kebahagiaan yang lahir dari kesediaan meluangkan waktu.
Bagi para prajurit, perjumpaan dengan Mbah Hadi menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang mereka lakukan bukan sekadar menyelesaikan target pembangunan.
Di balik jalan yang sedang dicor, ada kehidupan masyarakat yang ingin dibuat lebih baik. Ada warga yang menaruh harapan, ada orang-orang tua yang menyaksikan perubahan lingkungan, dan ada keluarga yang kelak merasakan manfaat pembangunan tersebut.
Kehadiran Mbah Hadi membuat hubungan itu terasa lebih dekat.
Makan Bersama, Menghapus Jarak antara Prajurit dan Rakyat
Salah satu kebiasaan yang membuat Mbah Hadi begitu akrab dengan anggota Satgas adalah keinginannya untuk makan bersama.
Dalam suasana sederhana, prajurit dan warga duduk berdampingan. Tidak ada pembicaraan mengenai pangkat ataupun jabatan. Yang terlihat hanyalah kebersamaan, obrolan ringan, dan suasana kekeluargaan.
Momen seperti ini menjadi gambaran nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Seragam loreng yang dikenakan prajurit tidak menjadi pembatas. Sebaliknya, kedekatan justru tumbuh melalui interaksi sehari-hari yang berlangsung secara alami.
Mbah Hadi pun terlihat antusias ketika dapat berkumpul bersama para anggota Satgas. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia menghadirkan suasana hangat yang membuat para prajurit merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri.
Ada nilai kehidupan yang tersimpan dalam kebiasaan sederhana tersebut.
Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Terkadang, duduk bersama, berbagi makanan, mendengarkan cerita, dan saling menyapa sudah cukup untuk membuat seseorang merasa dihargai.
Bagi prajurit yang jauh dari keluarga selama menjalankan tugas, suasana seperti itu tentu memiliki arti tersendiri.
Pelajaran Kehidupan dari Seorang Perempuan Sepuh
Perjalanan hidup selama 74 tahun tentu menyimpan banyak pengalaman. Mbah Hadi telah melewati berbagai masa, menyaksikan perubahan lingkungan, dan merasakan dinamika kehidupan masyarakat.
Dari sosoknya, para prajurit dapat mengambil pelajaran bahwa ketulusan tidak mengenal usia.
Semakin bertambah umur, seseorang semestinya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang kebaikan apa yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Mbah Hadi mengajarkan hal itu tanpa perlu menyampaikan pidato panjang.
Ia cukup hadir, menyapa, tersenyum, dan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk duduk bersama.
Ada pesan moral yang dapat dipetik dari kebiasaannya: jangan sampai kesibukan membuat manusia kehilangan kepedulian. Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi kebahagiaan. Sebab, perhatian yang tulus sering kali jauh lebih berharga daripada pemberian yang besar.
Bagi anggota Satgas TMMD, pengalaman berinteraksi dengan warga seperti Mbah Hadi menjadi bagian dari pelajaran kemanusiaan yang tidak diperoleh hanya melalui pendidikan dan latihan militer.
Di lapangan, mereka tidak hanya belajar menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat, menghargai orang tua, serta membangun hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati.
TMMD Bukan Hanya Membangun Jalan, tetapi Juga Membangun Kedekatan
Program TMMD ke-130 Kodim 0316/Batam di Kavling Mangsang Maju menjadi salah satu wujud pengabdian TNI melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur menjadi sasaran penting agar masyarakat mendapatkan akses lingkungan yang lebih baik. Namun, selama pelaksanaannya, ada nilai lain yang ikut tumbuh, yakni gotong royong, kepedulian, dan hubungan kekeluargaan antara prajurit dengan warga.
Setiap hari, anggota Satgas bekerja bersama masyarakat menghadapi berbagai kondisi di lapangan. Ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra, ada cuaca yang tidak selalu bersahabat, serta ada target yang harus diselesaikan sesuai rencana.
Di tengah semua itu, dukungan masyarakat menjadi bagian penting yang memberikan semangat.
Mbah Hadi adalah salah satu gambaran dari dukungan tersebut.
Ia mungkin tidak tercatat sebagai pelaksana pembangunan. Namanya mungkin tidak muncul dalam daftar orang yang mengerjakan pengecoran jalan. Namun, perhatian dan ketulusannya menjadi bagian dari cerita pengabdian yang tidak kalah bermakna.
Sebab, keberhasilan TMMD tidak hanya dapat dilihat dari infrastruktur yang berhasil dibangun, tetapi juga dari hubungan baik yang terjalin selama program berlangsung.
Ketika prajurit merasa diterima sebagai keluarga oleh masyarakat, di situlah kemanunggalan TNI dan rakyat menemukan maknanya.
Ketika Pekerjaan Selesai, Kenangan Akan Tetap Tinggal
Suatu saat, kegiatan TMMD ke-130 akan berakhir. Para prajurit akan kembali menjalankan tugas di satuan masing-masing. Suara mesin molen dan aktivitas pembangunan di Kavling Mangsang Maju pun akan berhenti.
Namun, kenangan selama menjalankan pengabdian kemungkinan akan tetap tersimpan.
Bagi warga, jalan yang dibangun akan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Anak-anak akan melewatinya, masyarakat akan menggunakannya untuk bekerja, dan lingkungan akan merasakan manfaatnya.
Sementara bagi para prajurit, mungkin ada banyak cerita yang akan mereka ingat. Salah satunya adalah sosok Mbah Hadi dengan panggilan khasnya, obrolan sederhana, dan ajakan makan bersama.
Dari seorang perempuan berusia 74 tahun, mereka mendapatkan pengingat bahwa menjadi manusia yang bermanfaat tidak harus menunggu memiliki kekuatan besar.
Cukup dengan kepedulian, ketulusan, dan kemauan untuk berbagi kebahagiaan.
Mbah Hadi mungkin tidak ikut menuangkan beton untuk membangun jalan. Namun, melalui perhatian kecilnya, ia telah ikut membangun sesuatu yang tidak kalah penting: semangat, persaudaraan, dan kedekatan antara TNI dengan masyarakat.
Sebab, jalan yang baik akan memudahkan langkah masyarakat. Tetapi hubungan yang baik akan meninggalkan jejak lebih lama di dalam hati.
Di Kavling Mangsang Maju, Satgas TMMD ke-130 tidak hanya meninggalkan pembangunan fisik. Mereka juga membawa pulang pelajaran kehidupan dari seorang warga sepuh yang mengajarkan bahwa pengabdian paling tulus terkadang hadir bukan melalui pekerjaan besar, melainkan dari senyum, sapaan, dan hati yang selalu terbuka untuk sesama.













