Oleh : Dr.Ipong Hembing Putra Ketum PITI
Jakarta,nusantarainvestigasi.com – The Way Home.
Sahabat…
Ketika teman satu per satu dipanggil berpulang, di situlah kita benar-benar mengerti arti hidup.
Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang diam-diam mengubah cara kita memandang dunia. Dulu, yang membuat hati gelisah adalah soal pekerjaan, jabatan, pencapaian, dan bagaimana agar terlihat berhasil di mata orang lain.Selasa 06 Oktober 2026.
Sekarang? Yang membuat hati gelisah justru kabar duka.
Hari ini dapat kabar teman SMP meninggal. Besok teman kerja. Lusa tetangga yang dulu sering bercanda bersama. Yang dulu selalu hadir di setiap cerita hidup, kini namanya tinggal dalam doa.
*Di Usia 60-an, Hidup Bukan Lagi Perlombaan*
Di usia 60-an, kita mulai sadar. Hidup ternyata bukan perlombaan tentang siapa yang paling lama bertahan, siapa yang paling kaya, atau siapa yang rumahnya paling besar.
Hidup adalah perjalanan tentang *siapa yang paling siap ketika waktunya tiba.*
Rambut yang mulai memutih, tenaga yang perlahan berkurang, pandangan yang mulai kabur, dan tubuh yang tidak lagi sekuat dulu. Itu bukan sekadar tanda tua.
Itu adalah nasihat lembut dari Allah SWT. Isyarat halus agar hati mulai lebih banyak mengingat saat pertemuan dengan-Nya.
*Yang Dulu Penting, Kini Kehilangan Makna*
Di fase ini, kita belajar jujur pada diri sendiri.
Keinginan untuk dipuji orang, mulai terasa melelahkan.
Keinginan untuk memiliki segalanya, mulai meredup.
Ambisi untuk diakui, perlahan kehilangan makna.
Hati hanya ingin satu: *tenang.*
Dan ternyata, ketenangan itu tidak pernah datang dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau ramainya pengikut. Ketenangan itu datang ketika hati terasa lebih damai, lebih dekat kepada Allah SWT, dan mulai ikhlas menerima hidup apa adanya.
Kita belajar bahwa tidak semua harus dimiliki. Tidak semua harus dimenangkan. Karena hidup ini memang sementara.
*Bukan Untuk Ditakuti, Tapi Untuk Disiapkan*
Saat melihat semakin banyak orang yang pergi mendahului kita, hati seperti diingatkan setiap hari bahwa suatu saat kita juga akan menyusul antrian itu.
Ini bukan untuk ditakuti. Tapi untuk disiapkan.
Maka selagi Allah SWT masih memberi waktu, perbanyaklah hal yang menenangkan jiwa:
Perbanyak doa.
Perbanyak memaafkan.
Perbanyak bersyukur.
Perbanyak beramal.
Dan jangan biarkan umur berkurang tanpa amal yang bertambah.
Sebab di akhir nanti, yang paling berharga bukan tentang seberapa banyak harta dunia yang pernah kita kumpulkan, berapa luas tanah yang kita punya, atau seberapa hebat nama kita di mata manusia.
Tetapi tentang *seberapa dekat hati kita kepada Allah saat kita dipanggil pulang.*
Itulah _The Way Home_ yang sesungguhnya.
Salam sehat, tetap semangat dan jangan lupa… tersenyumlah kepada setiap orang.











